oleh :nur laili
tgl 23 maret 2014
Seringkali dunia dibuat takjub oleh kesuksesan para tokoh- tokoh
besar karena kecerdasan, kekuasaan, ataupun pengaruh mereka. Selain itu
mereka juga dipuja karena kontribusi dan kisah inspiratif yang begitu
melegenda. Sebut saja Imam syafi'i. Siapa yang dapat meragukan kemampuan
beliau dalam penguasaan ilmu. Diusia sembilan tahun saja, prestasi
spektakuler sudah ditorehkannya. Pada usia belia tersebut, beliau sudah
mampu menghafal seluruh isi Alquran.
Kisah inspiratif lainnya
juga terjadi pada Thomas Alfa Edison. Dia adalah seorang anak tuna
rungu, yang bahkan dibilang bodoh oleh guru disekolahnya sendiri. Dia
akhirnya keluar sekolah, yang hanya dinikmatinya selama tiga bulan. Tapi
cerita sedih itu berubah saat dia telah tumbuh dewasa. Thomas berhasil
memegang rekor 1093 penemuan yang dipatenkan atas namanya. Dan diakhir
cerita, jadilah dia salah satu superstar, ilmuwan hebat dunia yang
sangat mendunia.
Dari sedikit cerita diatas, mungkin muncul
pertanyaan dalam diri kita, siapakah yang menjadi motivator manusia-
manusia hebat tersebut? Siapakah tokoh heroik yang telah sukses
mengantarkan mereka menuju kesuksesan? Jawabnya tidak lain adalah para
ibu mereka.
Ibu mereka tidak hanya sekedar melahirkan dan
menyusui. Tapi lebih dari itu, profesi mereka sebagai seorang ibu yang
bahkan tidak dinilai dengan uangpun, mereka jalankan dengan baik.
Pengayoman, pendidikan, perhatian, dengan setulus- tulusnya, mereka
berikan demi masa depan si anak. Karena itu tak berlebihan jika kita
menyebut bahwa Ibu adalah kata lain dari kasih sayang.
Mungkin
para ibu tersebut tidak memiliki kepandaian dalam hal ilmu seperti anak-
anak mereka yang melegenda. Namun para ibu itu adalah satu- satunya
yang memiliki ketulusan dan keikhlasan untuk mereka, anak- anaknya.
Masihkah kita ingat kisah tentang Nabi musa? Ibunya yang dengan ikhlas
menjalankan perintah Allah untuk menghanyutkan nabi musa, walau nabi
musa saat itu masih bayi. Suatu hal yang memang jika dinilai dengan
nalar atau batin seorang ibu, pastilah tidak akan tergapai. Namun
begitulah keikhlasan itu yang ada dalam hati para ibu tersebut, yang
menyelamatkan anaknya. Hal yang sama juga terjadi pada ibu Imam syafii.
Beliau yang rela melepas anaknya untuk merantau untuk mendapatkan ilmu.
Walau dengan linangan air mata, sang ibu rela dengan harapan dan doa,
bahwa anak- anak mereka kelak akan menjadi seorang yang sukses.
Maka jika kita telah menjadi orang yang sukses hari ini, ingatlah bahwa
ibu kita lah yang mengantarkan kita untuk bisa menjadi seperti sekarang
ini. Doa, kasih sayang, dan perhatian terbaik yang selalu dipanjatkannya
adalah "hutang" terbesar yang tidak akan mampu kita bayar, bahkan
dengan nyawa kita sekalipun. Lalu, sudahkah hari ini kita menyapa
beliau, dan mendoakan yang terbaik pula untuk beliau?
Dan untuk
kita para wanita, rugilah bagi yang memilih untuk hanya sekedar menjadi
wanita yang melahirkan dan menyusui, namun menolak menjadi seorang ibu
yang sebenarnya. Rugilah para wanita yang justru lebih bangga dengan
pujian manusia disekelilingnya karena kecemerlangan karirnya di luar
rumah saja, dan melalaikan kebutuhan anak- anak dan rumahnya. Karena
nanti saat kita telah tiada, dunia tidak akan berhenti dan akan tetap
melanjutkan aktivitasnya. Kitapun hanya sejenak dikenang dalam sebatas
kenangan. Namun jika kita memilih untuk menjadi seorang ibu yang
disayangi anak- anak kita, selamanya mereka akan menyayangi kita. Mereka
akan tetap menengadahkan tangan dan memohonkan doa bagi kita untuk
dimuliakan oleh Allah di akherat sana. Dan kita akan tetap bersemayam
dalam hati mereka sebagai sosok wanita yang mulia. InshaAllah